Kecelakaan: Oo, begini toh rasanya…

23 Feb

Selasa (21/02/12) kemarin bintang gelap menari2 dengan riangnya di atas kepala gue. Malam itu gue mengalami accident cukup hebat (at least buat gue yg baru pertama kali) dalam perjalanan pulang dari Kelapa Gading bersama kk gue. Dalam skala keparahan, gue rasa kejadian itu ada di angka 3 atau 4 dari 10. Ceritanya begini…

Sore itu kita (gue dan kk gue) emang udh menjadwalkan pergi ke drg. Sylvi di Kelapa Gading untuk membersihkan karang gigi yg SEUMUR HIDUP blm pernah dibersihkan *blush* Kenapa jauh2 ke Kelapa Gading? Karena kk gue pernah ada history mengenai TMJ (gangguan rahang) yg kemudian dirujuk drg. Sylvi ini ke gurunya yg pakar TMJ. Nah, karena masalah TMJ ini belum kunjung selesai, kmaren itu kk gue mao sekalian minta surat MRI ma drg. Sylvi yg hasilnya nanti supaya dirujuk lagi ke gurunya itu.

Paginya hari itu, badan gue sialnya sedang in the lowest point. Flu berat + demam (37 C kyny, gak ngukur se..) + radang tenggorokan + SAKIT KEPALA semua datang seperti udh janjian buat mengeroyok. Bahkan setelah gue siasati dgn bed rest sesiangan pun gak nolong… kepala gue masih nyut2an dan demam masih tinggi pas gue berangkat sekitar jam setengah 5 sore dari rumah. Perjalanan pergi bisa dibilang cukup lancar sampai ke klinik di Kelapa Gading.

Singkat cerita, setelah prosedur exorcism karang gigi kelar dilakukan, kita pun pulang lah. Namun malang tak dapat ditolak, pas mao balik itu hujan masih turun dengan konssiten dan merata (mulai hujan pas kita lagi di dalam). Untungnya kita yg selalu preventif ini sama2 membawa jas hujan, jadi segera saja kita putuskan untuk menerabas hujan yg memang gak gitu mengganggu itu.

Tidak ada premonisi apa2 ketika kami mulai beranjak pulang. Gue pun masih asyik bersenandung lagu OST Aoki Densetsu Shoot! versi bahasa Indonesia ketika menyusuri Danau Sunter. Ketika sampai di ujung dan harus berbelok ke kiri untuk naik layang menuju landas pacu, gue bahkan sengaja berhenti bersenandung untuk fokus penuh pada jalanan di depan. Namun justru tidak jauh dari sanalah naas menyergap kami berdua…

Turun dari layang pertama… gue gak ngeh (biasanya ngeh!) bhw jalan di depan akan langsung dibagi menjadi dua: lajur kiri dan lajur kanan. Dan sambil menuruni layang dengan tidak mengurangi kecepatan, gue baru mulai kepikiran “KENAPA JALANAN LURUS DI DEPAN GUE KOSONG MELOMPONG???” (Memang kondisinya malam itu hujan dan penerangan di TKP tidak seberapa, sodara2… ditambah dengan gue terpaksa menurunkan visor helm gue untuk menghalangi air hujan menusuk2 mata… apa yg jadi patokan gue hanyalah dinamika lampu2 kendaraan di depan mata.)

TERLAMBAT, sodara-sodaraaaaa…!!!

Begitu otak gue mengingatkan gue bhw itu jalan langsung splitting jadi 2 jalur, “BRAAAKKKKKKK!!” sudah menggelegar bersama dengan teriakan kk gue di belakang (dia teriak apaan, tau dah…). Gue, kk gue, dan Miyu-chan pun pasrah terpelanting ke udara sejauh 5-6 meter dan… yup, kejadiannya berlangsung begitu cepat sehingga gue gak bisa mencerna apa yg baru saja terjadi.

Tiba-tiba saja gue sudah menemukan diri gue terjembab di atas tanah berlumpur dengan posisi muka mencium tanah. Tidak lama kemudian kk gue menghampiri… “Thank God he’s OK”, pikiran pertama yg melesat di kepala gue. Namun ketika gue mencoba untuk bangkit… ARGHHHH!! Kaki kanan gue gak sanggup menopang berat badan gue yg ideal ini, hehehe… Rupanya paha kanan gue mengalami benturan keras dengan sesuatu, kemungkinan besar stang motor. Setelah berupaya beberapa kali menapakkan kaki kanan, akhirnya gue sanggup berdiri dan melangkah walaupun terseok2 seperti suster ngesot. Fiuhhhh… berarti gak ada yg patah. “Thank God (lagi)”.

Satu hal yg menjadi concern gue waktu itu adalah… ketika bangun itu kepala gue celeng luar biasa. Seperti disorientasi keseimbangan ketika kita berjalan di atas tanah miring, or something like that. Ditambah lagi dengan rasa nyut2an yg berlipat dua intensitasnya dibandingkan dengan ketika gue berangkat tadi. Wahhh… “jangan2 gue gegar otak”, ujar otak gue mendiagnosa dirinya sendiri.

Singkat cerita, begitu nyawa gue udh ngumpul lagi semua (baca: gue berhasil meng-assess apa yg baru saja terjadi) pertama2 yg gue lakukan adalah gue coba bangunin si Miyu-chan dari tidurnya… Namun sialnya, kaki kanan gue udh gak bisa ngeluarin tenaga sama sekali buat nendang itu kick-starter (selah/engkol). Buat berdiri aj stengah mati sakitnya -_-” Kk gue berinisiatif membantu… namun tentu saja, krn gak bisa bawa motor, dia pun gak tau gimana cara nendang kick-starter yg benar (udh diajarin pun gak bisa). And DAMNNN..!! Situasi diperparah dengan ketika gue cek stang, ternyata rem belakang gue udh gak berfungsi alias blong alias dull.

OK, karena situasinya terlalu tidak menguntungkan untuk diatasi sendiri, gue pun mencoba memikirkan alternatif2 tindakan yg perlu diambil dan prioritas2nya (kk gue yg masih agak shock ‘n a lil bit panicking). Akhirnya gue putuskan langkah strategis demikian:

1. Dorong motor ke ujung jalan (300-400m, ky dari Untar 1 ke TA kali yeee…) agar lebih mudah ditemukan.

2. Nelepon sepupu gue, bung Handi Lizar agar juga membawa 1 orang lagi untuk bawa pulang motor gue.

3. Nelepon sohib gue, bung SeagateBox utk bersiaga kalau2 gue butuh bantuan lain nantinya.

4. Langsung cabut ke RS terdekat (RS Mitra Kemayoran) untuk scan kepala, mengantisipasi hal2 yg tidak diinginkan.

miyu-chan

Miyu-chan after the clash: rem belakang PUTUS!

All being done, kita semua pun mendarat di UGD RS Mitra Kemayoran. Sangat disayangkan, sodara2… karena panik dan mungkin masih shocked, kita melakukan sebuah KESALAHAN BESAR di sini. Jadi ketika kelar mendaftar, dan kasir meminta upeti sebesar Rp.2.080.000,- (biaya scan 2 orang) gue coba sodorkan kartu ACE Life gue yg setau gue udh jadi rekanan RS nya. Ditolak. Dengan alasan “maaf, ini hanya bisa untuk rawat inap, Pak.” And you know what… Sebersit pun gak kepikiran di kepala gue waktu itu untuk meminta rawat inap!! Yea, damn fool, right? Alhasil semua biaya malam itu kita bayarkan dengan TUNAI tanpa mengecap sedikitpun manfaat dari asuransi yg religiously udh kita bayarkan selama hampir setahun terakhir 🙁

Ini pertama kalinya buat gue melakukan CT brain. Agak nervous juga… Untung susternya ramah ‘n murah senyum jadi relax walopun harus menahan posisi diam tak bergerak selama 5 menit. Btw mungkin u mikir “lebay amat begitu doank pake acara CT brain segala”… Well, pertimbangan gue ada 2 cui:

1. Gue pernah baca ulasan dari seorang dokter bedah, entah di blog atau di Kaskus, bhw dalam kasus yg tampaknya seringan apapun… setelah terjadi impact di kepala (apalagi kecelakaan kendaraan) WAJIB hukumnya dilakukan prosedur pemindaian (scanning) otak karena nature sensitif dari organ tubuh yg satu ini, benturan dalam kadar seberapa pun memiliki peluang untuk terjadi damage yg secara luar/fisik/kasat mata tidak terlihat.

2. Dari teman gue di komunitas kung fu dulu, gue juga pernah dengar… kasus orang yg setelah kecelakaan motor bisa langsung bangun dan merasa SANGAT FIT. Namun keesokan harinya tiba2 muntah2, tidak sadarkan diri, kemudian meninggal dunia hanya dalam beberapa jam saja.

3. Gak tau gimana kasusnya dengan kk gue… tp pas gue cek helm gue, terlihat jelas dari bekas tanah yg masih melekat bahwa terjadi benturan dan gesekan yg lumayan di bagian forehead (dahi) dan mulut/rahang dari helm. Tampaknya gue terjembab dengan posisi kepala duluan menghantam tanah kemudian terseret beberapa jauh jaraknya.

Akhirnya setelah proses scanning dua orang selesai, kita disuruh tunggu 10 menit untuk hasilnya. Setelah hasilnya keluar, kita pun langsung mengkonsultasikannya dengan dokter UGD yg berjaga malam itu. Dan hasilnyaaa…

NORMAL! Untuk dua2nya!!

“THANK YOU, LORD…” gumam gue dalam hati. Namun belum sempat gue mengekspresikan kegirangan itu di wajah, sang dokter cw yg masih muda itu memberikan sebuah statement yg bikin nyali agak ciut. “Bapak nanti observasi lagi di rumah yah selama 1 x 24 jam. Kalau bapak tiba2 mengalami PUSING HEBAT atau tiba2 MUNTAH MENYEMPROT/MENYEMBUR, harus segera dilarikan ke UGD terdekat”. Uh-oh…

Tapi tenanggg… Hari ini gue tulis post ini tanggal 23/02 yg berarti “masa tenggang” 1 x 24 jam telah sukses terlewati. Gue cuma bisa bersyukur aj deh… gue dan ko gue gak knapa2. Mungkin ke depannya gue harus riding lebih safe lagi, palagi stelah dpt feedback cukup keras dari bung SeagateBox bhw gue “bawa motor ky tukang ojex, tp skill di bawah tukang ojex”. Hahahah… thanks for the critique bro!

Btw buat elo2 yg bawa motor ‘n masih sayang nyawa gue titip pesan aj:

1. Always pake helm FULLFACE. Nothing less than that!

Yup, that’s including half-face… BUANG! besok beli FULLFACE! Kenapa?
Karena gue gak bisa bayangkan andaikan kemarin itu gue pake helm half-face, pas nyerok/nyosor tanah pasti udh HABIS tuh muka gue yg tampan ini. At least dagu ‘n mulut gue udh gak tau ky apa bentuknya. Dan gue juga dngr cerita langsung dari ipar sepupu gue, bahwa teman kantornya, cw.. bawa motor matic juga, pelan bawanya… suatu ketika kecelakaan, orangnya ngehantam tiang listrik. Apa yg terjadi sodara2…? Bibirnya hancur jadi sumbing sekarang plus giginya rontok 4-5 buah on the spot!

1.a. Pilih helm FULLFACE yg berkualitas, dalam artian material cangkang nya bukan abal2 yg dibanting penyok. Helm merk INK dan KYT cukup banyak menawarkan helm fullface berkualitas bagus di lini product-nya. For BEST protection, pilih material FIBER (ini yg dipake sama ko gue.. mungkin itu sebabnya dia gak celeng dan bisa langsung bangun!), second by THERMOPLASTIC (bahan ini udh standard/umum untuk material helm). Personally gue lebih prefer INK daripada KYT karena menurut kabar yg beredar, presisi dan soliditas build nya INK jauh lebih baik dari KYT, makanya harganya lebih mahal sedikit. Whatever, siapkan budget 400rb-600rb untuk ini. Buat nyawa jangan sayang duit, cui!

1.b. Ketika memilih helm, pastikan helm nya PAS BETUL dengan ukuran kepala Anda. Kalau kekecilan, helm akan mengompress kepala Anda dan menghambat aliran darah (serius nih, gue pernah salah beli kekecilan… pake 20 menit langsung pusing, akhirnya langsung gue jual lagi). Kalau kebesaran, itu sama aj ky elo gak pake helm… benturan yg terjadi gak bakalan tertahan sama karet2 busa nya dan kepala lo tetap merasakan impact yg besar. Ketika di toko helm, COBA DULU helm yg akan Anda beli… pastikan ketika Anda menggeleng/menengok ke kanan dan ke kiri, helm tsb MENGIKUTI PERGERAKANNYA DENGAN SEMPURNA.

2.� Always KANCING/KUNCI helm Anda ketika digunakan!

Ini penting abiz!! Gue lihat sendiri banyak orang di jalanan, termasuk teman2 gue sendiri, pake helm cuma asal dikuplukin doank di kepala… SADAR bro/sis, elo pake helm tuh bukan buat ngehindarin polisi… tp buat ngehindarin ISMAIL (MALAIKAT PENCABUT NYAWA). Banyak yg beralasan helm nya udh cukup ngepress, jadi gak perlu dikancing juga udh kencang… well, sorry2 kata but you’re DEAD WRONG, bro/sis! Gue pernah baca ulasan di forum otomotif yg membahas research impact tabrakan pada helm… and guess what, klo tuh helm gak dikancing… dengan speed 50-60 km/jam saja bisa dipastikan tuh helm bakalan LEPAS alias MENTAL begitu terjadi impact/tumbukan! Ada lagi yg gak mao ngancing buat alasan fashion/keren2an/takut kelihatan culun… Woi, culun mana sama muka lo pas di peti mati cui? Ato klo masih bagus… pas muka lo diperban berdarah2 di ICU?? Bayangin dulu dah sana…

3. Always BERDOA sebelum menjalankan kendaraan!

Percaya ato ngga, gue selalu lakukan ini ketika berkendara… dan kemarin pas kecelakaan itu SATU-SATUNYA moment di mana gue LUPA berdoa! (mungkin gara2 keasyikan nyanyi Aoki Densetsu Shoot! sialan itu…) But even so, gue yakin percaya gue ‘n ko gue masih selamat semua itu juga karena masih dilindungi ama yg di atas… Could’ve been worse.

yunnan baiyao, zheng gu shui

Yunnan Baiyao dan Zheng Gu Shui: your best friend di kala cedera

Akhir kata, sekarang gue lagi dalam masa pemulihan… di hari kedua ini, setelah terapi Zheng Gu Shui dan Yunnan Bai Yao tanpa henti, gue berangsur2 udh mulai lancar jalan, naik-turun tangga juga udh berkurang nyeri nya gak ky kmaren sakit bgt, ngilu di sekujur badan (dada, rusuk, bahu, lengan atas) masih sangat mengganggu but I can handle it, duduk dan bangun masih stengah mati… but oh well, what do you expect? Hehehe…

Like it? Share it.

4 thoughts on “Kecelakaan: Oo, begini toh rasanya…

  1. Pingback: RayAbraham.com

  2. 哎呀,我粗心了还是命运多舛。。。我也不明白。
    不过我很开心我们已经没问题了。。! ^^

  3. Wah berarti udah terasa ya bro kalau kecelakaan itu sakitnya bagaimana. Itu pengalaman yang tidak akan terlupakan lho. Berhati-hatilah waktu berkendara ya bro, jangan sampai terulang kembali kejadian tersebut.
    Saia juga sudah merasakan seperti yang bro alami. Saia kecelakaan pada 1996 silam kls 2 SMU naik motor Astre grand. Beruntung saia tidak mengalami patah tulang, pergelangan mata kaki dan pergelangan tangan sebelah kanan bergeser juga wajah baret² karena terseret ke aspal ( gak pakai helm). Motor rusak berat ( rangka depan ma belakang udah gak sinkron lagi alias melenceng dari standartnya. Mau tau apa yang saia hajar pada saat itu?? jawabannya adalah “tembok pembatas jembatan”
    Setelah kejadian tersebut saia trauma selama 2 tahun untuk mengendarai Motor.
    Dan akhirnya saia berfikir untuk berhati-hati dalam mengendarai motor setelah kejadian tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *