All-or-Nothing Theology: My Take

27 Mar

Beberapa kali dalam perjalanan saya mengikut TUHAN, saya mendengar sindiran/sarkasme justru dari orang-orang terdekat saya. Dari semua itu yg paling sering saya jumpai adalah yg bernada seperti ini: “Ahhh… ky lo hidup udh benar aja, dikit2 ‘Tuhan’ dikit2 ‘Tuhan’…” Atau kadang versi yg lebih panjang: “Eh kalo yg namanya ikut Tuhan itu jangan setengah2… gak usah cari duit, gak usah kawin, jangan makan daging, tinggal di biara, ngabdi buat orang terpinggir. Selama lo blom bisa ky gitu ya gak usah sok suci laaa… itu namanya MUNAFIK!” Post ini saya tulis BUKAN untuk mendebat pandangan itu, namun sekedar untuk memaparkan gagasan teologia yg saya anut secara pribadi.

Kebetulan hari Minggu (18/05) minggu yg lalu, Pak Eras (gembala sidang gereja kami) mengkhotbahkan konsep iman Kristiani yg memang sesuai dengan apa yg saya anut selama ini. Beliau berkata (kurang-lebih) “Tujuan hidup manusia di dunia adalah untuk kembali kepada rancangan Allah semula. Dan untuk sampai kepada tujuan itu kita harus mengenakan kodrat Ilahi sehingga hidup kita BERKENAN di hadapan-Nya. Tentu saja itu SANGAT SULIT! Namun sulit bukan berarti tidak bisa! Yg penting di sini adalah KESADARAN (awareness)! Ketika kita berbuat dosa, kita mengakui dan sujud minta ampun. Besok berbuat dosa lagi, kembali kita sujud minta ampun. Besok berbuat lagi? Minta ampun lagi! Begitu seterusnya sampai kita benar-benar TAAT pada level mengenakan kodrat Ilahi.

“Wah klo gitu enak amat, berbuat dosa aja terus2an dan tinggal minta ampun terus… gampang toh?” Sebelum Anda semua salah paham, saya coba jelaskan maksud dari pencerahan di atas…

Kata kuncinya dalam bahasan di atas, menurut hemat saya, adalah KESADARAN (awareness) dan MINTA AMPUN (ask for forgiveness). Ketika kita SADAR kita telah berbuat dosa, di situ yg bicara adalah hati nurani dan sebagai tindak lanjutnya yaitu memohon pengampunan… karena kita melakukannya secara SADAR, maka di situ kita akan membulatkan tekad, mengusahakannya sampai batas MAKSIMAL kemampuan kita untuk tidak melakukannya lagi. Nah, berangkat dari komitmen untuk berkenan di hadapan Allah inilah kita akan berevolusi, sekali lagi ber-EVOLUSI –yg artinya perubahan secara LAMBAT namun konsisten–, sampai pada level mengenakan kodrat Ilahi.

Dan jika di dalam proses berevolusi itu kita, sebagai manusia yg tidak sempurna, kembali jatuh ke dalam dosa yg sama (padahal sudah bersungguh2 berkomitmen untuk tidak melakukan lagi) kita diharapkan dapat kembali secara sadar mohon ampun kepada Allah Bapa dan memperbaharui komitmen kita. Ini tentu sangat berbeda dengan mentalitas menggampangkan yg saya contohkan di atas, sebab di sini terdapat HATI NURANI yg memegang peranan kunci untuk berusaha semaksimal mungkin agar tidak jatuh lagi (ke dalam dosa yg sama).

All-Or-Nothing

All or Nothing

Nah, kembali pada premis awal post ini yaitu hitam-putih, all-or-nothing, 100 atau nol…

Pertama-tama, tentu saja, kita harus ingat bahwa TUHAN sendiri tidak pernah memerintahkan kita untuk pasif dan tidak berkembang. Bisa kita renungkan kembali perumpamaan tentang talenta (Mat 25:14-30) untuk memahami kebenaran ini. Sudah menjadi tugas dan kewajiban kita sebagai manusia di dunia untuk mengembangkan potensi kita setinggi2nya, semaksimal mungkin, termasuk di antaranya adalah berevolusi menjadi insan intelligent, wealthy, resourceful, dan lain sebagainya… TETAPIIIIIIIIIIIII…

Jika kita sampai menjadikan semua hal itu sebagai SATU-SATUNYA YG UTAMA dalam tujuan hidup kita, atau bahkan menjadikannya NILAI/HAKEKAT hidup kita, saat itulah kita telah sesat menuju kegelapan abadi. Misal: Anda membeli mobil SUV baru karena fungsi dan kemampuannya yg bisa membuat kinerja Anda dan keluarga lebih produktif -> this is OK. Tapi jika Anda membeli mobil SUV baru karena Anda ingin memamerkannya kepada teman/tetangga, membuat orang2 iri dgn kesuksesan Anda, menyaingi rekan sekantor Anda yg baru saja ganti mobil, atau menunjukkan kepada dunia tingkat kemapanan finansial Anda -> you are in grave danger, bro & sis!

Kedua, mari kita beranalogi sedikit… Apakah ketika anak Anda baru lahir Anda akan berkata kepadanya, “hey Nak, jika kamu gak bisa langsung LARI sekarang… ya gak usah belajar jalan/merangkak sekalian!” Atau, bagaimana perasaan Anda ketika ayah/ibu Anda mengatakan kepada Anda saat baru lulus kuliah dan ingin mulai berkarir “hey Nak, kalau kamu tidak bisa langsung jadi Direktur bergaji 50 juta per bulan… lebih baik kamu tidak usah kerja sekalian!” Atau, mungkin Anda sedang menabung membeli sebuah TV layar datar untuk keluarga, namun tiba2 istri/suami Anda mengatakan “Pak/Bu, kalau nanti belinya tidak bisa yg ukuran raksasa 104 inch model terbaru, lebih baik tidak usah menabung saja…”

Well, semua butuh proses, saudara2… gak bisa instant ky Indomie. Begitu juga dengan keberkenanan kita di hadapan Allah Bapa. Memang betul DIA menginginkan totalitas kita dalam mengikut teladan Yesus dan memikul salib, namun bukan berarti jika kita belum bisa total lantas sekalian saja tidak usah mencoba…

Saya percaya pada proses. Tidak perlu ada yg memberitahu, saya sendiri mengerti betul bahwa saya masih sangat berdosa dan jauh dari kualitas keberkenanan yg diinginkan Allah Bapa. Namun seperti hal-nya dengan segala pergumulan lainnya di dunia, jika kita tidak mencoba dan gagal lalu mencoba lagi dan gagal lagi lalu mencoba lagi dst., maka bagaimana mungkin kita akan berhasil? Bangsa China memiliki peribahasa yg baik sekali melukiskan hal ini: “Jarak ribuan li dimulai dari satu langkah pertama“. Sudahkah Anda menapaki langkah pertama Anda?

Like it? Share it.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *